Pict by: Pinterest.com HAKIKAT FITRAH I.                    PENDAHULUAN Manusia merupakan makhluk Allah SWT yang paling sempurna dan...

Ilmu Pendidikan Islam

Pict by: Pinterest.com

HAKIKAT FITRAH

I.                   PENDAHULUAN
Manusia merupakan makhluk Allah SWT yang paling sempurna dan ciptaan yang terbaik. Ia dilengkapi dengan akal fikiran dan kesadaran. Dalam hal ini Ibnu ‘Arabi melukiskan hakikat manusia dengan mengatakan bahwa, “ Tidak ada makhluk Allah yang lebih bagus daripada manusia, yang memiliki daya hidup, mengetahui, berkehendak, berbicara, melihat, mendengar, berfikir, dan memutuskan.
Begitu sentralnya manusia sebagai makhluk Allah, maka hampir semua ilmu pengetahuan menjadikannya sebagai obyek studinya. Bukan hanya ilmu sosial dan humanior , tetapi sebagai ilmu kealaman dan eksak juga menjadikan manusia sebagai obyek studinya. Yang membedakan ilmu-ilmu tersebut adalah perbedaan sudut pandang terhadap manusia sesuai dengan disiplin masing-masing.
Misalnya, dalam ilmu Biologi mengkaji manusia dari aspek biologisnya, kedokteran mengkaji manusia dari aspek kesehatan dan medis, ilmu politik mengkaji manusia dari sudut pandang politik, ilmu ekonomi mengkaji interaksi manusia dalam bidang ekonomi. Sedangkan ilmu pendidikan membahas manusia dari sudut pandang fenomena dan aktivitasnya dalam pendidikan.

II.                RUMUSAN MASALAH
A.    Apa yang dimaksud dengan Fitrah Manusia?
B.     Apa saja sebutan Manusia dalam Al-Qur’an?
C.     Apa  Potensi Manusia dan Implikasinya dalam Pendidikan?
D.    Apa sajakah Aspek-Aspek Fitrah itu?

III.             PEMBAHASAN
A.    Fitrah Manusia
Ditinjau dari segi bahasa, fitrah berarti “ Ciptaan, sifat tertentu yang mana setiap yang maujud disifati dengannya pada awal masa penciptaannya, sifat pembawaan manusia (yang ada sejak lahir) , agama, as-sunah.
Ar-Raghib al-Asfahani menjelaskan makna fitrah dari segi bahasa yaitu, “fathara Allah al-khalq”, yang maksudnya Allah mewujudkan sesuatu dan menciptakannya bentuk/keadaan kemampuan untuk melakukan perbuatan-perbuatan.
Menurut Hasan Langgulung, ketika Allah menghembuskan/meniupkan ruh pada diri manusia (pada proses kejadian manusia secara nonfisik atau immateri) maka pada saat itu pula manusia (dalam bentuknya yang sempurna) mempunyai sebagian sifat-sifat ketuhanan sebagaimana yang tertuang dalam al-asma’ al-Husna, hanya saja kalau Allah serba Maha, sedangkan manusia hanya diberi sebagiannya. Sebagian sifat-sifat ketuhanan yang menancap pada diri manusia dan dibawanya sejak lahir itulah yang disebut fitrah.
Manusia diciptakan Allah SWT dengan sempurna dan memiliki berbagai kelebihan dibandingkan makhluk-makhluk yang lain. Sedikitnya ada lima kelebihan yang dimiliki oleh manusia :
1.    Manusia diciptakan Allah dengan bentuk yang paling sempurna. Sebagaimana difirmankan Allah dalam surat At Tiin ayat 4:



“Sesungguhnya Kami (Allah) telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
2.    Manusia dianugerahi akal oleh Allah SWT. Dengan akal itulah manusia dapat memiliki ilmu. Dengan akal amnusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak dan lain-lain.
3.    Manusia dianugerahi nafsu oleh Allah. Dengan nafsu itulah manusia dapat hidup dan menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Dengan nafsulah manusia belajar. Dengan nafsulah manusia bekerja. Dengan nafsulah manusia hidup berumah tangga. Bahkan dengan nafsulah manusia beribadah.
4.    Manusia dianugerahi Allah berupa hati nurani (qolbu) yang berfungsi sebagai penengah antara akal dan anfsu. Ketika akal dan nafsu saling bertentangan, maka hati nurani akan bertindak sebagai penilai sekaligus juga sebagai pengambil keputusan.
5.    Manusia diberi kebebasan untuk memilih, dalam hal apapun kecuali takdir Allah. Manusia diberi kebebasan dalam hidup ini apakah jalan keselamatan atau kesesatan. Apakah memilih taat kepada Allah SWT atau taat kepada setan laknatullah. 

B.      Sebutan-Sebutan Manusia dalam Al-Qur’an
Ada beberapa kata-kata yang digunakan Alquran untuk menunjukkan makna manusia, yaitu al-baysar, al-insan, dan  an-nas. Meskipun beberapa kata tersebut menunjuk pada makna manusia, namun secara khusus memiliki penekanan pengertian yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada uraian  berikut :
a.    Al-Basyar
Kata Al-Basyar disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 36 kali dan terdapat dalam 26 surah. Secara etimologi, Al-Basyar berarti kulit kepala, wajah, atau tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Penamaan ini menunjukkan makna bahwa secara biologis yang mendominasi manusia adalah pada kulitnya, dibanding rambut atau bulunya. Pada aspek ini terlihat perbedaan umum biologis manusia dengan hewan yang lebih didominasi bulu atau rambut.
Al-Basyar juga dapat diartikan mulasamahyaitupersentuhan kulit antara laki-laki dengan perempuan. Makna etimologis bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki segala sifat kemanusiaan dan keterbatasan seperti makan, minum, seks, keamanan, kebahagiaan dan sebagainya.
b.    Al-Insan
Kata yang berasal dari kata al-uns, dinyatakan dalam Al-Qur’an sebanyak 73 kali dan tersebar dalam 43 surah. Secara etimologis, al-insan dapat diartikan harmonis, lemah, lembut, tampak, atau pelupa.
Kata al-insan digunakan Al-Quran untuk menunjukkan totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Harmonisasi kedua aspek tersebut dengan berbagai potensi yang dimilikinya mengantarkan manusia sebagai makhluk Allah yang unik dan istimewa, sempurna dan memiliki perbedaan dari individual antara satu dan yang lain dan sebagai makhluk dinamis, sehingga mampu menyandang predikat khalifah Allah di bumi.
Kombinasi aspek fisik dan psikis telah membantu manusia mengeskspresikan dimensi al-insan al-bayan, yaitu sebagai makhluk berbudaya yang mampu berbicara, mengetahui baik dan buruk, mengembangkan ilmu pengetahuan dan sebagainya.
c.    An-Nas
KataAn-Nas dinyatakn dalam Al-Qur’an sebanyak 240 kali dan terdapat dalam 53 surah. Kata an-nasmenunjukkan pada eksistensi manusia sebagai makhluk sosial secara keseluruhan tanpa melihat status keimanan atau kekafirannya.
Dalam menunjukkan makna manusia, kata an-nas lebih bersifat umum apabila dibandingkan dengan kata al-insan. Keumuman tersebut dapat dilihat dari penekanan makna yang dikandungnya. Kata an-nasmenunjuk manusia sebagai kelompok manusia tertentu yang sering melakukan mafsadahyang merupakan pengisian neraka, disamping iblis.
C.    Potensi Manusia dan Implikasinya dalam Pendidikan
Abdul Fattah dalam bukunya “Min al-Ushul al-Tarbawiyah al-Islamiyah, telah mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan alat-alat potensial yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia untuk meraih ilmu pengetahuan. Masing-masing alat itu saling berkaitan dan melengkapi dalam mencapai ilmu. Alat-alat tersebut antara lain:
1.      Al-lams dan al-syum (alat peraba dan alat penciuman/pembau)
2.      Al-samu’ (alat pendengaran)
3.      Al-abshar (penglihatan)
4.      Al-‘aql (akal atau daya berfikir)
5.      Al-qalb (hati).
Manusia terdiri dari dua substansi , yaitu a) substansi jasad/materi, yang bahan dasarnya adalah dari materi yang merupakan bagian dari alam semesta penciptaan Allah SWT dan dalam pertumbuhan dan perkembangannya tunduk dan mengikuti sunatullah (aturan, ketentuan, hukum Allah yang berlaku di alam semesta), b) Substansi immateri/nonjasadi, yaitu penghembusan atau peniupan ruh kedalam diri manusia sehingga manusia merupakan benda organik yang mempunyai hakikat kemanusiaan serta mempunyai berbagai alat potensial dan fitrah.Disamping itu, Syaikh Ahmad Musthafa al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa manusia itu telah diberi hidayah oleh Allah secara bertingkat-tingkat. Pengertian hidayah disini sebagaimana dikemukakan oleh Muhammad Rasyid Ridla, ialah petunjuk halus yang memudahkan seseorang untuk mencapi sesuatu yang dicari atau mencapai tujuan.
Adapun macam-macam hidayah yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia ialah :
a.       Hidayah al-ilhami (insting), yakni denyut hati (gerak hati, impuls) yang terdapat dalam bakat manusia mauoun binatang. Termasuk di dalamnya nafsu, dorongan untuk melakukan sesuatu, doronngan tersebut tidak berdasarkan pikiran. Atau dengan kata lain dorongan yang bersifat animal, tidak berdasarkan pikir panjang.
b.      Hidayah al-hawasi (indera), yaitu alat badani yang peka terhadap rangsangan dari luar yang meliputi: al-bashirah (indera penglihatan), al-sami’ah (indera pendengaran), hassah al-tha’m (indera pengecap), hassah al-syum (indera pembau) dan hassah al-lams (indera peraba).
c.       Hidayah al-aql (hidayah akal budi)
d.      Hidayah al-adyani (hidayah agama)
e.       Hidayah al-taufiqi.
Hidayah yang pertama dan kedua dianugerahkan kepada manusia maupun hewan, hidayah yang ketiga sampai kelima hanya diberikan kepada manusia.
Pemahaman tentang fitrah manusia juga bisa dikaji dari ajaran agama Islam sebagaimana yang ditunjukkan dalam  Al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 30:

Maka hadapkanlah wajahmu pada agama dengan selurus-lurusnya (sesuai dengan kecenderungan aslinya). Itulah fitrah Allah, yang Allah menciptakan manusia di atas fitrah itu. Itulah agama yang lurus. Namun kebanyakan orang tidak mengetahuinya. (Ar-rum: 30).
Fitrah yang disebutkan dalam ayat tersebut mengandung implikasi kependidikan yang berkonotasi kepada paham nativisme, karena kata fitrah mengandung makna “kejadian” yang di dalamnya berisi potensi dasar beragama yang benar dan lurus, yaitu islam. Potensi dasar ini tidak dapat diubah oleh siapapun atau lingkungan apapun, karena fitrah merupakan ciptaan Allah yang tidak akan mengalami perubahan baik isi maupun bentuknya dalam tiap pribadi manusia.
Alat-alat potensial dan berbagai potensi dasar atau fitrah manusia tersebut harus ditumbuhkembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan sepanjang hayatnya. Manusia diberi kebebasan atau kemerdekaan untuk berikhtiar mengembangkan alat-alat potensial dan potensi-potensi dasar atau fitrah manusia tersebut. Namun demikian, dalam pertumbuhan dan perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari adanya batas-batas tertentu, yaitu adanya hukum-hukum yang pasti dan tetap menguasai alam, hukum yang menguasai benda-benda maupun masyarakat manusia sendiri, yang tidak tunduk dan tidak pula bergantung pada kemauan manusia. Hukum-hukum inilah yang disebut takdir.
Disamping itu, pertumbuhan dan perkembangan alat-alat potensial dan fitrah manusia itu juga dipengaruhi oleh faktor-faktor hereditas, lingkungan alam dan geografis, lingkungan sosiokultural, dan sejarah.

D.    Aspek-Aspek Fitrah
Fitrah adalah Faktor kemampuan dasar perkembangan manusia yang terbawa sejak lahir yang terpusat pada potensi dasar untuk berkembang. Potensi dasar itu berkembang secara menyeluruh (integreal) yang menggerakkan seluruh aspek-aspeknya yang secara mekanistis satu sama lain saling pengaruh mempengaruhi menuju kearah tujuan tertentu.
Aspek-aspek fitrah  merupakan komponen dasar yang bersifat dinamis, responsif terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk pengaruh pendidikan. Komponen-komponen dasar meliputi :
a.    Bakat, suatu pembawaan yang potensial mengacu kepada perkembangan kemampuan akademis (ilmiah) dan keahlian (profosional) dalam berbagai bidang kehidupan.
b.    Insting atau gharizah, ialah suatu kemampuan berbuat atau bertingkah laku dengan tanpa melalui proses belajar. Kemampuan insting ini pun merupakan pembawaan sejak lahir. Dalam psikologi pendidikan, kemampuan ini termasuk kapabilitas, yaitu kemampuan berbuat sesuatu dengan tanpa melalui belajar.
Jenis-jenis tingkah laku manusia yang digolongkan insting yaitu :
(1)       Melarikan diri karena perasaan takut
(2)       Menolak karena jijik
(3)       Ingin tahu karena menakjubi sesuatu
(4)       Melawan karena kemarahan
(5)       Merendahkan diri karena perasaan mengabdi
(6)       Menonjolkan diri karena adanya harga diri atau manja
(7)       Orang tua karena perasaan halus budi
(8)       Berkelamin karena keinginan mengadakan reproduksi
(9)       Berkumpul karena keinginan mendapatkan sesuatu yang baru
(10)   Mencari sesuatu karena bergaul / bermasyarakat
(11)   Membangun sesuatu karena mendapatkan kemajuan
(12) Menarik perhatian orang lain karena ingin diperhatikan oleh orang lain
Jenis-jenis insting tersebut di atas adalah menurut pandangan Mac Dougall, ahli psikologi social inggris. Dia mengartikan insting sebagai tendensi khusus dari jiwa manusia/binatang yang terbawa sejak lahir yang menimbulkan tingkah laku tanpa melalui proses belajar.
c.    Nafsu atau dorongan-dorongannya. Dalam tasawuf dikenal dengan nafsu-nafsu lawwamah yang mendorong ke arah perbuatan mencela dan merendahkan, nafsu amarah yang mendorong ke arah perbuatan merusak, membunuh, memusuhi orang lain, nafsu birahi yang mendorong ke arah perbuatan seksual untuk memuaskan tuntunan akan pemuasan hidup berkelamin, nafsu mutmainnah yang mendorong ke arah ketaatan kepada Tuhan yang Maha Kuasa, dan nafsu bahimiah yang mendorong ke arah perbuatan rendah sebagaimana nafsu binatang.
d.   Karakter atau watak tabiat manusia merupakan kemampuan psikologi yang terbawa sejak kelahirannya. Karakter ini berkaitan dengan tingkah laku moral dan sosial serta etis seseorang. Karakter terbentuk oleh kekuatan diri dalam diri manusia, bukan terbentuk karena pengaruh dari luar.
e.    Hereditas atau keturunan merupakan faktor kemampuan dasar yang mengandung ciri-ciri psikologi dan fisiologi yang diturunkan/diwariskan oleh orang tua baik dalam garis yang dekat maupun yang telah jauh.
f.     Intiusi ialah kemampuan psikologis manusia untuk menerima ilham Tuhan. Intuisi menggerakkan hati nurani manusia yang membimbingnya ke arah perbuatan dalam situasi khusus di luar kesadaran akal pikirannya, namun mengandung makna yang bersifat konstruksi bagi kehidupannya.
Demikianlah konsep islam tentang fitrah yang dapat mendasari motivasi peserta didik dalam pendidikan islam.

IV.             KESIMPULAN
Ditinjau dari segi bahasa, fitrah berarti “ Ciptaan, sifat tertentu yang mana setiap yang maujud disifati dengannya pada awal masa penciptaannya, sifat pembawaan manusia (yang ada sejak lahir) , agama, as-sunah. Ada beberapa kata-kata yang digunakan Alquran untuk menunjukkan makna manusia, yaitu al-baysar, al-insan, dan  an-nas. Meskipun beberapa kata tersebut menunjuk pada makna manusia, namun secara khusus memiliki penekanan pengertian yang berbeda. Abdul Fattah dalam bukunya “Min al-Ushul al-Tarbawiyah al-Islamiyah, telah mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan alat-alat potensial yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia untuk meraih ilmu pengetahuan.

V.                PENUTUP
Demikian makalah yang dapat kami susun, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan demi tersusunnya makalah yang lebih baik lagi. Mohon maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan. Semoga makalah ini bermanfaat untuk kita semua. Amin.








Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, ( Bandung: Remaja Rosdakarya , 2002 ).
Muchtar, Heri Jauhari, Fikih Pendidikan, ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008 ).
Umar, Buchari, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : AMZAH, 2010).
Sudiyono, M, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009).

0 Comments: