HAKIKAT FITRAH
I.
PENDAHULUAN
Manusia merupakan makhluk Allah SWT yang paling sempurna dan
ciptaan yang terbaik. Ia dilengkapi dengan akal fikiran dan kesadaran. Dalam
hal ini Ibnu ‘Arabi melukiskan hakikat manusia dengan mengatakan bahwa, “ Tidak
ada makhluk Allah yang lebih bagus daripada manusia, yang memiliki daya hidup,
mengetahui, berkehendak, berbicara, melihat, mendengar, berfikir, dan
memutuskan.
Begitu sentralnya manusia sebagai makhluk Allah, maka hampir semua
ilmu pengetahuan menjadikannya sebagai obyek studinya. Bukan hanya ilmu sosial
dan humanior , tetapi sebagai ilmu kealaman dan eksak juga menjadikan manusia
sebagai obyek studinya. Yang membedakan ilmu-ilmu tersebut adalah perbedaan
sudut pandang terhadap manusia sesuai dengan disiplin masing-masing.
Misalnya, dalam ilmu Biologi mengkaji manusia dari aspek
biologisnya, kedokteran mengkaji manusia dari aspek kesehatan dan medis, ilmu
politik mengkaji manusia dari sudut pandang politik, ilmu ekonomi mengkaji
interaksi manusia dalam bidang ekonomi. Sedangkan ilmu pendidikan membahas
manusia dari sudut pandang fenomena dan aktivitasnya dalam pendidikan.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apa yang
dimaksud dengan Fitrah Manusia?
B.
Apa saja
sebutan Manusia dalam Al-Qur’an?
C.
Apa Potensi Manusia dan Implikasinya dalam Pendidikan?
D.
Apa sajakah
Aspek-Aspek Fitrah itu?
III.
PEMBAHASAN
A.
Fitrah Manusia
Ditinjau dari segi bahasa, fitrah berarti “ Ciptaan, sifat tertentu
yang mana setiap yang maujud disifati dengannya pada awal masa penciptaannya,
sifat pembawaan manusia (yang ada sejak lahir) , agama, as-sunah.
Ar-Raghib al-Asfahani menjelaskan makna fitrah dari segi bahasa
yaitu, “fathara Allah al-khalq”, yang maksudnya Allah mewujudkan sesuatu dan
menciptakannya bentuk/keadaan kemampuan untuk melakukan perbuatan-perbuatan.
Menurut Hasan Langgulung, ketika Allah menghembuskan/meniupkan ruh
pada diri manusia (pada proses kejadian manusia secara nonfisik atau immateri)
maka pada saat itu pula manusia (dalam bentuknya yang sempurna) mempunyai
sebagian sifat-sifat ketuhanan sebagaimana yang tertuang dalam al-asma’ al-Husna,
hanya saja kalau Allah serba Maha, sedangkan manusia hanya diberi sebagiannya.
Sebagian sifat-sifat ketuhanan yang menancap pada diri manusia dan dibawanya
sejak lahir itulah yang disebut fitrah.
Manusia diciptakan Allah SWT dengan sempurna dan memiliki berbagai
kelebihan dibandingkan makhluk-makhluk yang lain. Sedikitnya ada lima kelebihan
yang dimiliki oleh manusia :
1.
Manusia
diciptakan Allah dengan bentuk yang paling sempurna. Sebagaimana difirmankan
Allah dalam surat At Tiin ayat 4:

“Sesungguhnya
Kami (Allah) telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
2.
Manusia
dianugerahi akal oleh Allah SWT. Dengan akal itulah manusia dapat memiliki
ilmu. Dengan akal amnusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak
dan lain-lain.
3.
Manusia
dianugerahi nafsu oleh Allah. Dengan nafsu itulah manusia dapat hidup dan
menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Dengan nafsulah manusia belajar.
Dengan nafsulah manusia bekerja. Dengan nafsulah manusia hidup berumah tangga.
Bahkan dengan nafsulah manusia beribadah.
4.
Manusia
dianugerahi Allah berupa hati nurani (qolbu) yang berfungsi sebagai penengah
antara akal dan anfsu. Ketika akal dan nafsu saling bertentangan, maka hati
nurani akan bertindak sebagai penilai sekaligus juga sebagai pengambil
keputusan.
5.
Manusia diberi
kebebasan untuk memilih, dalam hal apapun kecuali takdir Allah. Manusia diberi
kebebasan dalam hidup ini apakah jalan keselamatan atau kesesatan. Apakah
memilih taat kepada Allah SWT atau taat kepada setan laknatullah.
B.
Sebutan-Sebutan Manusia dalam Al-Qur’an
Ada beberapa kata-kata yang digunakan Alquran untuk menunjukkan
makna manusia, yaitu al-baysar, al-insan, dan
an-nas. Meskipun beberapa kata tersebut menunjuk pada makna manusia,
namun secara khusus memiliki penekanan pengertian yang berbeda. Perbedaan
tersebut dapat dilihat pada uraian
berikut :
a.
Al-Basyar
Kata Al-Basyar
disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 36 kali dan terdapat dalam 26 surah. Secara
etimologi, Al-Basyar berarti kulit kepala, wajah, atau tubuh yang
menjadi tempat tumbuhnya rambut. Penamaan ini menunjukkan makna bahwa secara
biologis yang mendominasi manusia adalah pada kulitnya, dibanding rambut atau
bulunya. Pada aspek ini terlihat perbedaan umum biologis manusia dengan hewan
yang lebih didominasi bulu atau rambut.
Al-Basyar juga
dapat diartikan mulasamahyaitupersentuhan kulit antara laki-laki dengan
perempuan. Makna etimologis bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki segala
sifat kemanusiaan dan keterbatasan seperti makan, minum, seks, keamanan,
kebahagiaan dan sebagainya.
b.
Al-Insan
Kata yang
berasal dari kata al-uns, dinyatakan dalam Al-Qur’an sebanyak 73 kali
dan tersebar dalam 43 surah. Secara etimologis, al-insan dapat diartikan
harmonis, lemah, lembut, tampak, atau pelupa.
Kata al-insan
digunakan Al-Quran untuk menunjukkan totalitas manusia sebagai makhluk jasmani
dan rohani. Harmonisasi kedua aspek tersebut dengan berbagai potensi yang
dimilikinya mengantarkan manusia sebagai makhluk Allah yang unik dan istimewa,
sempurna dan memiliki perbedaan dari individual antara satu dan yang lain dan
sebagai makhluk dinamis, sehingga mampu menyandang predikat khalifah Allah di
bumi.
Kombinasi aspek
fisik dan psikis telah membantu manusia mengeskspresikan dimensi al-insan
al-bayan, yaitu sebagai makhluk berbudaya yang mampu berbicara, mengetahui baik
dan buruk, mengembangkan ilmu pengetahuan dan sebagainya.
c.
An-Nas
KataAn-Nas
dinyatakn dalam Al-Qur’an sebanyak 240 kali dan terdapat dalam 53 surah. Kata an-nasmenunjukkan
pada eksistensi manusia sebagai makhluk sosial secara keseluruhan tanpa melihat
status keimanan atau kekafirannya.
Dalam
menunjukkan makna manusia, kata an-nas lebih bersifat umum apabila
dibandingkan dengan kata al-insan. Keumuman tersebut dapat dilihat dari
penekanan makna yang dikandungnya. Kata an-nasmenunjuk manusia sebagai
kelompok manusia tertentu yang sering melakukan mafsadahyang merupakan
pengisian neraka, disamping iblis.
C.
Potensi Manusia
dan Implikasinya dalam Pendidikan
Abdul Fattah dalam bukunya “Min al-Ushul al-Tarbawiyah
al-Islamiyah, telah mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan
alat-alat potensial yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia untuk meraih
ilmu pengetahuan. Masing-masing alat itu saling berkaitan dan melengkapi dalam
mencapai ilmu. Alat-alat tersebut antara lain:
1.
Al-lams dan
al-syum (alat peraba dan alat penciuman/pembau)
2.
Al-samu’ (alat
pendengaran)
3.
Al-abshar
(penglihatan)
4.
Al-‘aql (akal
atau daya berfikir)
5.
Al-qalb (hati).
Manusia terdiri dari dua substansi , yaitu a) substansi
jasad/materi, yang bahan dasarnya adalah dari materi yang merupakan bagian dari
alam semesta penciptaan Allah SWT dan dalam pertumbuhan dan perkembangannya
tunduk dan mengikuti sunatullah (aturan, ketentuan, hukum Allah yang berlaku di
alam semesta), b) Substansi immateri/nonjasadi, yaitu penghembusan atau peniupan
ruh kedalam diri manusia sehingga manusia merupakan benda organik yang
mempunyai hakikat kemanusiaan serta mempunyai berbagai alat potensial dan
fitrah.Disamping itu, Syaikh Ahmad Musthafa al-Maraghi dalam tafsirnya
menjelaskan bahwa manusia itu telah diberi hidayah oleh Allah secara
bertingkat-tingkat. Pengertian hidayah disini sebagaimana dikemukakan oleh
Muhammad Rasyid Ridla, ialah petunjuk halus yang memudahkan seseorang untuk
mencapi sesuatu yang dicari atau mencapai tujuan.
Adapun macam-macam hidayah yang dianugerahkan oleh Allah kepada
manusia ialah :
a.
Hidayah
al-ilhami (insting), yakni denyut hati (gerak hati, impuls) yang terdapat dalam
bakat manusia mauoun binatang. Termasuk di dalamnya nafsu, dorongan untuk
melakukan sesuatu, doronngan tersebut tidak berdasarkan pikiran. Atau dengan
kata lain dorongan yang bersifat animal, tidak berdasarkan pikir panjang.
b.
Hidayah
al-hawasi (indera), yaitu alat badani yang peka terhadap rangsangan dari luar
yang meliputi: al-bashirah (indera penglihatan), al-sami’ah (indera
pendengaran), hassah al-tha’m (indera pengecap), hassah al-syum (indera pembau)
dan hassah al-lams (indera peraba).
c.
Hidayah al-aql
(hidayah akal budi)
d.
Hidayah
al-adyani (hidayah agama)
e.
Hidayah
al-taufiqi.
Hidayah
yang pertama dan kedua dianugerahkan kepada manusia maupun hewan, hidayah yang
ketiga sampai kelima hanya diberikan kepada manusia.
Pemahaman tentang fitrah manusia juga bisa dikaji dari ajaran agama
Islam sebagaimana yang ditunjukkan dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 30:

Maka hadapkanlah wajahmu pada agama dengan selurus-lurusnya (sesuai
dengan kecenderungan aslinya). Itulah fitrah Allah, yang Allah menciptakan
manusia di atas fitrah itu. Itulah agama yang lurus. Namun kebanyakan orang
tidak mengetahuinya. (Ar-rum: 30).
Fitrah yang disebutkan dalam ayat tersebut mengandung implikasi
kependidikan yang berkonotasi kepada paham nativisme, karena kata fitrah
mengandung makna “kejadian” yang di dalamnya berisi potensi dasar beragama yang
benar dan lurus, yaitu islam. Potensi dasar ini tidak dapat diubah oleh
siapapun atau lingkungan apapun, karena fitrah merupakan ciptaan Allah yang
tidak akan mengalami perubahan baik isi maupun bentuknya dalam tiap pribadi
manusia.
Alat-alat potensial dan berbagai potensi dasar atau fitrah manusia
tersebut harus ditumbuhkembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses
pendidikan sepanjang hayatnya. Manusia diberi kebebasan atau kemerdekaan untuk
berikhtiar mengembangkan alat-alat potensial dan potensi-potensi dasar atau
fitrah manusia tersebut. Namun demikian, dalam pertumbuhan dan perkembangannya
tidak bisa dilepaskan dari adanya batas-batas tertentu, yaitu adanya
hukum-hukum yang pasti dan tetap menguasai alam, hukum yang menguasai
benda-benda maupun masyarakat manusia sendiri, yang tidak tunduk dan tidak pula
bergantung pada kemauan manusia. Hukum-hukum inilah yang disebut takdir.
Disamping itu, pertumbuhan dan perkembangan alat-alat potensial dan
fitrah manusia itu juga dipengaruhi oleh faktor-faktor hereditas, lingkungan
alam dan geografis, lingkungan sosiokultural, dan sejarah.
D.
Aspek-Aspek
Fitrah
Fitrah adalah Faktor kemampuan dasar perkembangan manusia yang
terbawa sejak lahir yang terpusat pada potensi dasar untuk berkembang. Potensi
dasar itu berkembang secara menyeluruh (integreal) yang menggerakkan seluruh
aspek-aspeknya yang secara mekanistis satu sama lain saling pengaruh
mempengaruhi menuju kearah tujuan tertentu.
Aspek-aspek fitrah merupakan
komponen dasar yang bersifat dinamis, responsif terhadap pengaruh lingkungan
sekitar, termasuk pengaruh pendidikan. Komponen-komponen dasar meliputi :
a.
Bakat, suatu
pembawaan yang potensial mengacu kepada perkembangan kemampuan akademis
(ilmiah) dan keahlian (profosional) dalam berbagai bidang kehidupan.
b.
Insting atau
gharizah, ialah suatu kemampuan berbuat atau bertingkah laku dengan tanpa
melalui proses belajar. Kemampuan insting ini pun merupakan pembawaan sejak
lahir. Dalam psikologi pendidikan, kemampuan ini termasuk kapabilitas, yaitu
kemampuan berbuat sesuatu dengan tanpa melalui belajar.
Jenis-jenis tingkah laku manusia yang digolongkan insting yaitu :
(1)
Melarikan diri
karena perasaan takut
(2)
Menolak karena
jijik
(3)
Ingin tahu
karena menakjubi sesuatu
(4)
Melawan karena
kemarahan
(5)
Merendahkan
diri karena perasaan mengabdi
(6)
Menonjolkan
diri karena adanya harga diri atau manja
(7)
Orang tua
karena perasaan halus budi
(8)
Berkelamin
karena keinginan mengadakan reproduksi
(9)
Berkumpul
karena keinginan mendapatkan sesuatu yang baru
(10)
Mencari sesuatu
karena bergaul / bermasyarakat
(11)
Membangun
sesuatu karena mendapatkan kemajuan
(12)
Menarik
perhatian orang lain karena ingin diperhatikan oleh orang lain
Jenis-jenis insting tersebut di atas adalah menurut pandangan Mac
Dougall, ahli psikologi social inggris. Dia mengartikan insting sebagai
tendensi khusus dari jiwa manusia/binatang yang terbawa sejak lahir yang
menimbulkan tingkah laku tanpa melalui proses belajar.
c.
Nafsu atau
dorongan-dorongannya. Dalam tasawuf dikenal dengan nafsu-nafsu lawwamah
yang mendorong ke arah perbuatan mencela dan merendahkan, nafsu amarah
yang mendorong ke arah perbuatan merusak, membunuh, memusuhi orang lain, nafsu birahi
yang mendorong ke arah perbuatan seksual untuk memuaskan tuntunan akan pemuasan
hidup berkelamin, nafsu mutmainnah yang mendorong ke arah ketaatan kepada Tuhan
yang Maha Kuasa, dan nafsu bahimiah yang mendorong ke arah perbuatan
rendah sebagaimana nafsu binatang.
d.
Karakter atau
watak tabiat manusia merupakan kemampuan psikologi yang terbawa sejak
kelahirannya. Karakter ini berkaitan dengan tingkah laku moral dan sosial serta
etis seseorang. Karakter terbentuk oleh kekuatan diri dalam diri manusia, bukan
terbentuk karena pengaruh dari luar.
e.
Hereditas atau
keturunan merupakan faktor kemampuan dasar yang mengandung ciri-ciri psikologi
dan fisiologi yang diturunkan/diwariskan oleh orang tua baik dalam garis yang
dekat maupun yang telah jauh.
f.
Intiusi ialah
kemampuan psikologis manusia untuk menerima ilham Tuhan. Intuisi menggerakkan
hati nurani manusia yang membimbingnya ke arah perbuatan dalam situasi khusus
di luar kesadaran akal pikirannya, namun mengandung makna yang bersifat
konstruksi bagi kehidupannya.
Demikianlah konsep islam tentang fitrah yang dapat mendasari
motivasi peserta didik dalam pendidikan islam.
IV.
KESIMPULAN
Ditinjau
dari segi bahasa, fitrah berarti “ Ciptaan, sifat tertentu yang mana setiap
yang maujud disifati dengannya pada awal masa penciptaannya, sifat pembawaan
manusia (yang ada sejak lahir) , agama, as-sunah. Ada beberapa kata-kata yang
digunakan Alquran untuk menunjukkan makna manusia, yaitu al-baysar, al-insan,
dan an-nas. Meskipun beberapa kata
tersebut menunjuk pada makna manusia, namun secara khusus memiliki penekanan
pengertian yang berbeda. Abdul Fattah dalam bukunya “Min al-Ushul al-Tarbawiyah
al-Islamiyah, telah mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan
alat-alat potensial yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia untuk meraih
ilmu pengetahuan.
V.
PENUTUP
Demikian makalah yang dapat kami susun, kami menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, kritik dan saran yang
konstruktif sangat kami harapkan demi tersusunnya makalah yang lebih baik lagi.
Mohon maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan. Semoga makalah ini
bermanfaat untuk kita semua. Amin.
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, ( Bandung: Remaja Rosdakarya ,
2002 ).
Muchtar, Heri Jauhari, Fikih Pendidikan, ( Bandung: Remaja Rosdakarya,
2008 ).
Umar, Buchari, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : AMZAH, 2010).
Sudiyono, M, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009).
%5B1%5D.jpeg)
0 Comments: