Pict by: @izzakham
A.
Memancing
Apersepsi Anak Didik
Anak didik adalah makhluk individual. Anak didik adalah orang yang
mempunyai kepribadian dengan ciri-ciri yang khas sesuai dengan perkembangan dan
pertumbuhannya. Perkembangan dan pertumbuhan anak didik mempengaruhi sikap dan
tingkah lakunya. Perkembangan dan pertumbuhan anak itu sendiri dipengaruhi
lingkungan di mana anak hidup berdampingan dengan orang lain disekitarnya dan
dengan alam lingkungan hidup lainnya. Itulah sebabnya, anak sebagai makhluk
individual suatu waktu harus hidup berdampingan dengan semua orang dalam
lingkup kehidupan sosial di masyarakat.
Kehidupan sosial di masyarakat tidak selalu sama, tapi ada juga
perbedaannya. Perbedaan itu dapat dilihat dari aspek tingkat usia, pekerjaan,
jabatan, tingkat kekayaan, pendidikan, sosiologis, geografis, profesi, dan
sebagainya. Dalam stratifikasi sosial yang demikian itulah anak didik hidup dan
berinteraksi dengan lingkungannya. Sikap, perilaku, dan pandangan hidup anak
dipengaruhi oleh lingkungan yang membentuknya. Pengetahuan yang anak miliki
sesuai dengan apa yang dia dapatkan dari lingkungan kehidupannya sebelum masuk
sekolah.
Latar belakang kehidupan sosial anak penting untuk diketahui oleh
guru. Sebab dengan mengetahui dari mana anak berasal, dapat membantu guru untuk
memahami jiwa anak. Pengalaman apa yang telai dipunyai anak adalah hal yang
sangat membantu untuk memancing perhatian anak. Anak biasanya senang
membicarakan hal-hal yang menjadi kesenangannya.
Dalam mengajar, pada saat yang tepat, guru dapat memanfaatkan
hal-hal yang menjadi kesenangan anak untuk diselipkan dalam melengkapi isi dari
bahan pelajaran yang disampaikan. Tentu saja pemanfaatannya tidak sembarangan,
tetapi harus sesuai dengan bahan pelajaran. Pendekatan relisasi ini dirasakan
keampuhannya untuk memudahkan pengertian dan pemahaman anak didik terhadap
bahan yang bersentuhan dengan aperssepsinya. Bahan pelajaran yang belum pernah
didapatkan dan masih asing baginya, mudah diserap bila penjelasannya dikaitkan
dengan apersepsi anak.
Pengalaman anak mengenai bahan pelajaran yang telah diberikan
merupakan bahan apersepsi yang dipunyai oleh anak. Pertama kali anak menerima
bahan pelajaran dari guru dalam suatu pertemuan, merupakan pengalaman pertama
anak untuk menerima sesuatu yang baru; dan hal itu tetap menjadi milik anak.
Itulah pengetahuan yang telah dimiliki anak untuk satu pokok bahasan dari suatu
bidang studi di sekolah. Pada pertemuan berikutnya, pengetahuan anak tersebut
dapat dimanfaatkan untuk memancing perhatian anak terhadap bahan pelajaran yang akan diberikan, sehingga anak
terpancing untuk memperhatikan penjelasan guru. Dengan demikian, usaha guru
menghubungkan pengetahuan yang masih relevan yang akan diberikan, merupakan
teknik untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik dalam pengajaran.
Bahan apersepsi sangat membantu anak didik dalam usaha mengolah
kesan-kesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Penjelasan demi
penjelasan dapat anak didik cerna secara bertahap hingga jalan pelajaran
berakhir. dengan begitu, guru jangan khawatir bahwa anak didik tidak menguasai
bahan pelajaran yang diberikan. Tapi yakinlah bahwa anak didik dapat menguasai
sebagian atau seluruh bahan pelajaran yang diberikan dalam suatu pertemuan.
Akhirnya, pengetahuan guru mengenai apersepsi sdapat memancing
aktivitas belajar anak didik secara optimal.
B.
Memanfaatkan
Teknik Alat Bantu yang Akseptabel
Bahan
pelajaran adalah isi yang disampaikan oleh guru dalam proses belajar mengajar
yang bermacam-macam sifatnya. Tinjauan mengenai sifat bahan ini dikarenakan
dalam setiap kali proses belajar mengajar berlangsung ada di antara anak didik
yang kurang memproses (mengolah) bahan dengan baik, sehingga pengertian pun
sukar didapatkan. Intelegensi adalah faktor lain yang menyebabkannya. Sukar
dipahaminya penjelasan guru juga menjadi faktor penyebabnya.
Untuk seorang guru yang kurang terbiasa berbicara dan
kurang pandai memilih kata serta kalimat yang disampaikan dari setiap bahan
pelajaran akan mengalami kesulitan untuk
mengantarkan anak didik menjadi orang
yang paham atas bahan yang diajarkan. Hasilnya adalah kegagalan seorang guru
mengajar dan kegagalan dalam usuhanya mengantarkan anak didik mencapai tujuan.
Begitu juga seorang guru yang pandai bermain kata dan kalimat pun terkadang
menemukan kesulitan untuk menanamkan pengertian atas bahan pelajaran yang
diberikan kepada anak didik. Karena anak didik hanya dapat menggunakan indra
pendengarnya (audio), bukan penglihatannya (visual) dan juga penguasaan bahasa
anak yang relatif belum banyak.
Anak didik yang menyadari bahwa dirinya sukar menerima
bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru, biasanya tidak atau kurang
memperhatikan pelajaran itu. Guru mengajar sendiri, anak didik juga belajar
sendiri dengan topik bahasan masing-masing.
Jalan
pengajaran kondusif adalah kondisi belajar mengajar yang menyenangkan bagi anak
didik. Kegairahan belajar anak didik terkuak sebagai implementasi dari luapan
motivasinya. Kondisi belajar mengajar yang demikian itulah yang diinginkan.
Guru
yang menyadari kelemahan dirinya untuk menjelaskan isi dari bahan pelajaran
yang disampaikan sebaiknya memanfaatkan alat bantu untuk membantu memperjelas
isi dari bahan. Fakta, konsep, atau prinsip yang kurang dapat dijelaskan lewat
kata-kata atau kalimat dapat diwakilkan kepada alat bantu untuk menjelaskannya.
Dengan begitu, kelemahan metode ceramah tertutupi. Alat bantu yang cocok dapat
mengekonkretkan masalah yang rumit dan kompleks menjadi seolah-olah sederhana.
Penjelasan yang guru berikan ditambah dengan menghadirkan alat bantu lebih
mendukung untuk menguraikan fakta, konsep atau prinsip. Efektifitas pemahaman
anak didik lebih terjamin. Aliran realisme sangat mendukung penggunaan alat
bantu dalam pengajaran. Menurut mereka, belajar yang sempurna hanya dapat
tercapai jika menggunakan alat bantu yang mendekati realisasi. Lebih banyak
sifat alat bantu yang menyerupai relitas, makin mudah terjadi belajar pada anak
didik. (Syaiful Bahri Djamarah, 1994: 94).
Walaupun
begitu, jangan sampai kehadiran alat bantu yang lebih menarik anak didik
daripada pelajaran yang akan diberikan. Alat bantu dijadikan sebagai taktik
untuk meningkatkan konsentrasi anak didik terhadap bahan pelajaran yang
disampaikan, bukan sebagai tujuan bagaimana alat bantu itu dibuat.
Penggunaan
alat bantu berlaku untuk anak didik tingkat SD/sederajat, SMP/sederajat, atau
SMU. Tetapi penggunaannya lebih banyak untuk anak didik tingkat SD/sederajat.
Dengan demikian ternyata, bahwa alat bantu yang akseptabel merupakan taktik
yang jitu untuk meningkatkan perhatian anak didik terhadap bahan pelajaran yang
disampaikan oleh guru.
C.
Memilih Bentuk Motivasi Yang Akurat
Motivasi merupakan salah satu faktor
yang penting dalam sebuah pembelajaran. Tanpa adanya motivasi peserta didik
akan sulit menerima pelajaran atau bahkan tidak mau menerima pelajaran. Dengan
adamya motivasi peserta didik dapat bergairah dalam belajar dan bersungguh
sungguh dalam belajar. Dalam usaha membangkitakan motivasi peserta didik
seorang guru dapat melakukan enam hal sebagai berikut:
1. Memberikan
dorongan belajar kepada peserta didik dalam belajar.
2. Menjelaskan
secara konkret tentang makna pentingnya belajar.
3. Memberikan
ganjaran terhadap prestasi peserta didik.
4. Membentuk
kebiasaan belajar dengan baik.
5. Membantu
kesulitan peserta didik dalam belajar baik secara individual maupun kelompok.
6. Menggunakan
metode yang bervariasi.
Ada beberapa bentuk motivasi yang dapat
dilakukan seorang pengajar guna mempertahankan minat peserta didik dalam proses
belajar adalah sebagai berikut :
1. Memberi
angka atau nilai
Angka
atau nilai yang dimaksud adalah simbol dari kegiatan peserta didik selama
proses belajar. Angka yang diberikan kepada seorang peserta didik itu sangat
bervariasi tergantung pada hasil selama proses pembelajaran berlangsung apakah
pembelajaran tersebut berlangsung baik atau tidak.
2. Hadiah
Hadiah
merupakan sesuatu yang diberikan kepada orang lain sebagai penghargaan atau
sebagai kenang kenangan. Pemberian hadiah ini diharapkan agar dapat menambah
motivasi belajar peserta didik. Hadiah ini bisa berupa buku tulis,permen maupun
yang lainnya.
3. Pujian
Pujian
adalah salah satu bentuk motivasi yang positiv tak peduli dia orang tua, muda
atau anak anak, pada dasarnya mereka senang akan pujian. Pujian tidak hanya
lewat kata-kata melainkan bisa lewat gerak mimik tubuh misal: senyum, acungan
jempol.
4. Memberi
Tugas
Memberi
tugas adalah sesuatu pekerjaan yang menuntut pelaksanaan untuk diselesaikan.
Tugas merupakan bagian peserta didik yang tidak dapat dipisahkan. Dengan tugas
peserta didik dituntut untuk bisa menyelesaikan tepat waktu.
5. Memberikan
ulangan
Ulangan
adalah salah satu strategi pengajaran yang penting dalam belajar. Sebab dengan
ulangan seorang guru dapat mengetahui sejauh mana kepahaman seorang siswa
terhadap pelajaran yang diajarkan. Selain itu ulangan dapat menuntut peserta
didik untuk giat dalam belajar.
6. Hukuman
Hukuman
adalah reinforcement yang negatif,
tetapi dioerlukan dalam pendidikan. Hukuman yang dimaksudkan bukan hukuman
seperti penjara melainkan hukuman yang bersifat mendidik. Misal jika ada anak
yang datang terlambat diberi hukuman dengan meyuruh untuk mencatat pelajaran
yang tertinggal dan yang lainnya. Yang terpenting sifatnya mendidik.
D.
MenggunakanMetode
yang Bervariasi
Metode
adalah strategi yang tidak bisa ditinggalkan dalam proses belajar mengajar.
Setiap kali mengajar guru pasti menggunakan metode. Metode yang dipergunakan itu
tidak sembarangan, melainkan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Penggunaan
metode akan menghasilkan kemampuan yang sesuai dengan karakteristik metode
tersebut. Kemampuan yang dihasilkan oleh metode ceramah akan berbeda dengan
kemampuan yang dihasilkan oleh metode diskusi. Demikian juga dengan penggunaan
metode mengajar lainnyaseperti metode eksperimen, observasi, karyawisata,
problem solving, dan sebagainya.
Penggunaan metode mengajar yang
bervariasi dpata menggairahkan belajar anak didik pada suatu kondisi tertentu
anak didik akan merasa bosan dengan suatu ceramah dikarenakan mereka harus
setia mendengarkan dan tenang mendengarkan ceramaha dari guru. Kegiatan
mengajar yang seperti itu perlu dialihkan barangkali menggunakan metode tanya
jawab, diskusi, baik kelompok ataupun individual sehingga kebosanan yang
dialami oleh siswa dpata berkurang sehingga pengajaran jauh dari kelesuan.
Setelah ceramah diselingi dengan
tanya jawab mengenai sesuatu yang baru saja dijelaskan. Ini merupakan salah
satu cara yang digunakan untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik. Tanya
jawab bisa terjadi dari guru ke anak didik ataupun anak didik ke guru. Jika
tanya jawab dirasa cukup maka dilanjtkan dengan pemberian tugas kepada anak
didik untuk diselesaikan dalam waktu yang ditentukan oleh guru sebelum jam
pelajaran berakhir.
Penggunaan metode yang bervariasi
sebagai mana disebutkan di atas dapat menjembatani gaya-gaya anak didik dalam
menyerap bahan ajar. Umpan balik dari peserta didik akan bangkit sejalan dengan
penggunaan metode mengajar yang sesuai dengan konsdisi psikologis anak. Maka
pentingnya suatu metode yang digunakan dalam belajar untuk mendapatkan umpan
balik yang optimal dari anak didik.
Connect With Me